Sore itu kebetulan saja saya melewati sebuah toko buku yang belum lama buka, entah bisikan apa yang membuat saya ingin mampir. Tokonya kecil, koleksi bukunya pun tak begitu lengkap. Kepincut sama majalah Indonesian Photographer, tapi harganya lumayan mahal, kocek saya nggak cukup. Nglirik majalah Cakram, tapi ternyata edisi biasa, bukan edisi khusus. Tanya buku-bukunya Seno Gumira Ajidarma sama si mbak penjaga toko, oh ternyata tak sedia barang satu judul pun. Dia malah menawarkan semacam buku teenlit kepada saya, blaikkk! Si mbak itu tak bisa disalahkan, karena di mata orang yang beriman, saya memang tampak lebih muda, semuda remaja tanggung :)
Ternyata di sudut rak lain ada buku yang resensinya pernah saya baca di koran, sampulnya bergambar aneh, judul buku itu Drunken Monster. Akhirnya buku itu yang terbeli, harganya 29ribu, masih dapet diskon 20%, saya bayar 30ribu di kasir, dapat uang kembalian, masih bisa lah untuk beli satu liter bensin harga baru.
Penulis buku ini adalah Pidi Baiq, dia sudah Haji, dia suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak, dia lulusan FSRD ITB, dia mantan Dekan, dia mantan vokalis ben The Panasdalam, dia dermawan. Sungguh sosok manusia hebat. Menurut si Sayur, semua yang terlihat dari luar itu hanyalah kurungan.
Kurungan dan isi bisa lain. Yah, kehebatannya itu tak tercermin dari cara dia menulis dalam buku ini. Kalimat-kalimatnya tak memiliki struktur yang jelas, anak SD masa kini pun bisa menyusun kalimat jauh lebih baik daripada dia. Bahkan dia sendiri mengakui bahwa gaya bahasa tulisannya mencerminkan diri sebagai orang berpendidikan yang tidak berpendidikan. Justru gaya bahasa dan penulisan yang buruk itu menjadikannya berbeda dengan buku-buku lain.
Kang Pidi menyebut buku ini sebagai catatan harian. Tapi saya ragu, apa iya orang sehebat dia ternyata konyol dan ‘tak waras’ di kehidupan sehari-harinya. Entahlah, hanya di yang bisa menjawab. Saya sudah pernah mendengarkan lagu-lagu dari Panasdalam, seharusnya saya tak perlu kaget dengan kekonyolannya, lirik-lirik lagu yang ditulisnya dan tulisannya di buku ini sudah cukup menjelaskan betapa tidak warasnya dia. Jadi, kalau dia menganggap Drunken Monster sebagai catatan harian, Anda tak perlu percaya dengan kebenaran kisahnya, wong ra waras ojo digagas...
Ada satu hal yang saya kagumi dari sosok Pidi Baiq, dia adalah orang yang sangat dermawan. Tukang becak yang sering nongkrong di dekat rumahnya pernah ditraktir makan di cafe mahal di Bandung. Seorang bapak penduduk sekitar Tangkuban Perahu dikasih 50ribu, begitu pula dengan tukang ojek dan sopir angkot. Tapi sebelum dikasih uang, orang-orang itu musti berlapang dada menanggapi setiap omongan dan kelakuannya, yah bayangkanlah acara tivi Candid Camera yang legendaris itu.
Di Gramedia Solo, seingat saya buku ini ditaruh di rak kategori ‘Humor’, bersebelahan dengan bukunya Beny-Mice, dan di bawahnya ada buku saku contoh SMS humor-gaul. Tapi Drunken Monster sebenarnya tak menyajikan humor kelas remeh dan miskin makna. Humor yang ada dalam tulisan Pidi adalah humor yang kadang berisi renungan-renungan, kritis, satire, dan sedikit berbumbu intelektual. Sebuah humor yang berusaha nyastra – atau justru sebaliknya? Menurut saya, Drunken Monster bisa saja ditaruh di rak kategori ‘Sastra’, bersebelahan dengan buku-bukunya Pramudya Ananta Toer, Sindhunata, dan Budi Darma.
Oya, sebenarnya semua tulisan yang ada di buku ini adalah catatan harian yang sudah diposting di blog Multiply miliknya. Silakan berkunjung ke sana, tinggal di-print, maka Anda bakal memiliki naskah yang hampir sama dengan buku Drunken Monster, cuman beda editing doang, tak perlu lah beli, hehe. Tapi kenapa ya buku ini masih saya beli juga? Yah, anggap saja saya lagi khilaf.
Kabarnya, Pidi Baiq sudah mengeluarkan buku baru lagi, judulnya Drunken Molen. Dan sedang menyusun buku lain, Ayat-Ayat Sompral. Ditunggu saja, semoga saya tak lagi khilaf...
JUDUL: Drunken Monster | PENGARANG: Pidi Baiq | PENERBIT: DAR! Mizan, 2008 | TEBAL: 208 halaman | HARGA: Rp. 29.000