Google
 

Simaklah...

Tak ada Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk di Bandung. Benarkah karena perang Bubat?
Paman Tyo diwawancara radio, masih seputar blog. Hasil siarannya bisa download di sini
Sandra Dewi bikin blog. Ya, Sandra Dewi yang asal Bangka Belitung itu


Cobaan Bagi Hendarman

Anak buah molah, pimpinan kepradhah

Coba lihat bagaimana Jaksa Agung Hendarman Supandji tertunduk sambil memegang keningnya saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi III DPR. Sebuah gesture yang menggambarkan bagaimana dia dibuat pusing gara-gara ulah beberapa anak buahnya yang telpon-telponan dengan Artalyta dan disadap oleh KPK itu. Lembaga yang dia pimpin pun seolah sudah kehilangan wibawa di mata masyarakat.

Tapi kita juga tidak bisa gebyah uyah menganggap bahwa semua jaksa itu bermental busuk. Saya percaya masih ada jaksa dan penegak hukum yang jujur, entah itu menjadi mayoritas atau justru minoritas yang terasing dalam lingkungan penuh iblis.

“Anak buah molah, pimpinan kepradhah”, itu sebenarnya hanya plesetan dari istilah Jawa, “anak molah, bapak kepradhah”. Molah (polah) artinya bertingkah buruk, sedangkan kepradhah artinya terperkara. Jadi, jika anak melakukan perbuatan buruk, orang tua juga akan mendapatkan hukuman, aib, beban, dan lain sebagainya.

Dalam konteks kasus suap di Kejaksaan Agung, Hendarman lah yang mengisi posisi sebagai orang tua itu, dialah yang memikul aib dan beban. Tak hanya itu saja, dia juga punya tugas berat untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari masyarakat, sekaligus membersihkan lembaga yang dia pimpin dari orang-orang bermental korup dan rakus.

Mampukah Hendarman melakukan itu semua? Yah, kita tunggu saja. Semoga gajinya sebagai Jaksa Agung sudah mencukupi, sehingga tak perlu ikut-ikutan berbisnis permata seperti Urip :D

Imej: repro Media Indonesia edisi 26 Juni 2008

Thursday, July 3, 2008 |

Centralismo Ala Indonesia

Di tengah obrolan enteng sambil lesehan di wedangan, saya bertanya kepada seorang kawan tentang rencananya sesudah lulus kuliah nanti. “Nyang Jakarta noh, Solo terlalu cilik kanggo obsesiku”, jawabnya. Entah obsesi apa yang akan dia kejar, pastinya sebuah obsesi besar.

Jakarta tetap menarik bagi orang-orang daerah, dari yang berkeahlian minim, hingga pemuda fresh graduate seperti kawan saya tadi. Media massa menyebutkan bahwa Jakarta menyerap 70% perputaran uang nasional, hebat betul. Inilah salah satu bukti bahwa Indonesia masih terlalu sentralistik dalam hal ekonomi. Jakarta adalah lahan basah, banyak duitnya. Jakarta sekaligus sebagai pusat pemerintahan. Jadi, Jakarta adalah gabungan antara Washington dan New York.

Tidak perlu heran jika eksodus dari daerah menuju ke ibu kota selalu terjadi setiap tahunnya. Ini adalah dampak dari tidak meratanya pembangunan dan kurangnya penyediaan lapangan kerja di daerah. Orang-orang daerah itu rela menyandang sebutan ‘orang udik’ dan ‘orang kampung’ untuk meraih kehidupan yang lebih baik ketimbang di tempat asalnya, meski sebenarnya ibu kota tak selalu menjanjikan keberhasilan dan kesuksesan. Para pendatang itu berlomba meraih ‘Jakarta dreams’, diantara mereka ada yang menang atau paling tidak mencoba bertahan, sebagian lagi kalah dan terkalahkan.

Saya berpikir, Indonesia adalah sebuah negara besar dan kaya sumber daya alamnya, tapi kenapa 70% duitnya cuma sibuk diputar di Jakarta saja. Sayang sekali, bukankah daerah lain juga bisa dikembangkan? Bagaimana jika posisinya dibalik, 70% perputaran uang terjadi di daerah, sedangkan 30% sisanya di Jakarta? Entahlah, saya bukan ahli ekonomi.

Selama ini daerah turut menyetor kas ke pusat, sebuah kepercayaan besar. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah Jakarta bisa menjaga dengan baik kepercayaan itu? Harta yang sampai di Jakarta itu akankah terkelola dengan baik? Disini kita mempertanyakan sikap profesional orang-orang Jakarta sebagai pemegang dan pengelola duit negara, pun penentu kebijakan ini itu untuk wilayah sini situ Indonesia

Seno Gumira dalam esainya, Jakarta Tanpa Indonesia (majalah Djakarta!), menuliskan bahwa Jakarta dalam konteks Indonesia sekarang bagaikan sebuah dunia yang orang-orangnya asyik dengan diri sendiri. Sesuai judulnya esainya, maka bayangkanlah Jakarta tanpa Indonesia. Jika daerah sudah mulai geleng kepala ‘mendanai’ Jakarta, masih bisakah Jakarta mempertahankan gemerlap dan kemegahannya?

Jakarta yang megapolitan, lengkap dengan banjir, kemacetan lalu lintas, dan kepadatan penduduknya, mau tidak mau juga harus siap melayani kepentingan daerah, membangun potensi-potensi yang dimiliki daerah, dan untuk kepentingan daerah. Itulah tugas berat dan berkeringat sebagai ibu kota negara.

Wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan nan luas – tak cuma seluas Taman Mini – jelas masih butuh pemerataan pembangunan. Sekali lagi, negara ini sungguh luas, sayang sekali jika 70% uangnya hanya berputar di Jakarta saja. Seumpama daerah juga bisa berkembang, bahkan melebihi Jakarta, maka orang-orang seperti kawan saya tadi tak perlu lagi ke Jakarta untuk mengejar obsesinya.

Selamat ulang tahun Jakarta, semoga panjang umur dan lekas sembuh dari semua masalahmu...

Ilustrasi: femina-online.com

Monday, June 23, 2008 |

Mengingatkan, Gimana Enaknya?

Saat kata-kata tak lagi mempan, imej pun mengambil alih peranan

Banyak cara untuk mengingatkan sesama, menuju kebaikan tentunya, bukan malah mengajak ke lembah dosa. Namanya juga mengingatkan, bukan menjerumuskan. “Ngajak golek dalan padhang”, orang Jawa bilang.

Hari Minggu, jalanan agak lengang, mungkin orang-orang lebih memilih ngendon dan ‘angrem’ di rumah. Di siang yang cerah dan panas itu saya melintas di daerah Pasar Kliwon, daerah ini terkenal sebagai kampung Arab-nya Kota Solo. Dan saya menemukan spanduk ini, kalimatnya memang sudah biasa terdengar dan terbaca, banyak bertebaran dimana-mana, di musholla hingga blog, “Sholatlah sebelum Anda disholatkan”.

Tapi rupanya, bagi orang pokrol seperti saya, kata-kata seperti itu cuman masuk lewat kuping kiri, dan keluar lewat kuping kiri lagi. Kok keluar lewat kuping kiri lagi? Iya, kalo keluar kuping kanan, pasti masih ada ‘ampas-ampasnya’ di salah satu partisi memori. Lha kalo keluar lewat kuping kiri lagi, tak ada ampas yang tertinggal. Lalu kita pun biasa berlindung dibalik kata lalai, lupa, dan alpa.

Saat kata-kata tak bisa lagi berperan banyak, maka imej, gambar, dan visual pun dihadirkan. Ya, foto sebuah bandoso (keranda) dan jenasah yang sudah dikafani pun hadir di bawah kalimat itu. Sungguh tajam pesan yang disampaikan, dan apa adanya. Shock therapy, bung! Bagi yang melihat diharapkan bisa merenung, sekaligus mengingat.

Tak perlu ada yang tersinggung, kebenaran kadang memang terasa pahit. Masing-masing individu dituntut untuk ngilo githoke dewe, menilai diri sendiri, tak perlu lah nduding orang lain.

Mengingatkan bukan berarti memaksakan. Biarlah masing-masing individu mendapatkan pencerahannya. Sebuah pencerahan spiritual yang bersifat personal, yang tentu saja tak bisa dipaksakan.

Anda dan saya bisa saling mengingatkan...

PS: Jujur sholat saya masih banyak bolongnya, terutama sholat Subuh :(

© Foto: Dony Alfan

Sunday, June 8, 2008 |

Ku Rindu Rasul-ku

Malam, jam 22.10, secangkir kopi susu dan rokok menemani sunyi. Sunyi yang tiba-tiba lenyap karena riuhnya suara televisi. Suara riuh yang ternyata berasal dari sekitar tugu tinggi berpuncak emas, riuh karena orang-orang sedang ‘sibuk’.

Keriuhan yang membuatku merenung dan mempertanyakan kembali ajaran agama yang ‘hanya’ didapat dari warisan orang tua, bukan dari usaha sendiri untuk mencari kebenaran. Satu hal yang mungkin salah dan tidak pantas dilakukan, karena sama saja mempertanyakan Tuhan.

Islam yang dulu dikagumi, kini justru ditakuti. Islam yang dulu hanya satu, kini terurai menjadi seribu. Saat Suni dan Syiah tak bisa lagi dipersatukan oleh Quran, saat masing-masing golongan merasa ibadahnya paling benar, saat masing-masing ulama saling mempertentangkan fatwa, saat darah sesama muslim menjadi halal untuk ditumpahkan. Ajaran agama pun telah menyatu dengan aliran-aliran baru buatan manusia yang merasa berpikiran nabi dan rasul. Aku tak tahu apakah aku berada dalam golongan yang benar diantara 73 golongan itu...

Kusujudkan diriku di atas lembaran hangat sajadah setiap hari, demi mengharap hidayahMu. Mengharap jawabanMu atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini hanya terjawab oleh miskinnya ilmu.

Manusia sudah terlalu lama merindukan Rasul-nya, merindukan ajaran Muhammad yang satu bukan seribu

Ku rindu Imam-ku… Ku rindu Rasul-ku…

Saturday, June 7, 2008 |

Drunken Monster, Sebuah Catatan Harian Pidi Baiq

Sore itu kebetulan saja saya melewati sebuah toko buku yang belum lama buka, entah bisikan apa yang membuat saya ingin mampir. Tokonya kecil, koleksi bukunya pun tak begitu lengkap. Kepincut sama majalah Indonesian Photographer, tapi harganya lumayan mahal, kocek saya nggak cukup. Nglirik majalah Cakram, tapi ternyata edisi biasa, bukan edisi khusus. Tanya buku-bukunya Seno Gumira Ajidarma sama si mbak penjaga toko, oh ternyata tak sedia barang satu judul pun. Dia malah menawarkan semacam buku teenlit kepada saya, blaikkk! Si mbak itu tak bisa disalahkan, karena di mata orang yang beriman, saya memang tampak lebih muda, semuda remaja tanggung :)

Ternyata di sudut rak lain ada buku yang resensinya pernah saya baca di koran, sampulnya bergambar aneh, judul buku itu Drunken Monster. Akhirnya buku itu yang terbeli, harganya 29ribu, masih dapet diskon 20%, saya bayar 30ribu di kasir, dapat uang kembalian, masih bisa lah untuk beli satu liter bensin harga baru.

Penulis buku ini adalah Pidi Baiq, dia sudah Haji, dia suami dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak, dia lulusan FSRD ITB, dia mantan Dekan, dia mantan vokalis ben The Panasdalam, dia dermawan. Sungguh sosok manusia hebat. Menurut si Sayur, semua yang terlihat dari luar itu hanyalah kurungan.

Kurungan dan isi bisa lain. Yah, kehebatannya itu tak tercermin dari cara dia menulis dalam buku ini. Kalimat-kalimatnya tak memiliki struktur yang jelas, anak SD masa kini pun bisa menyusun kalimat jauh lebih baik daripada dia. Bahkan dia sendiri mengakui bahwa gaya bahasa tulisannya mencerminkan diri sebagai orang berpendidikan yang tidak berpendidikan. Justru gaya bahasa dan penulisan yang buruk itu menjadikannya berbeda dengan buku-buku lain.

Kang Pidi menyebut buku ini sebagai catatan harian. Tapi saya ragu, apa iya orang sehebat dia ternyata konyol dan ‘tak waras’ di kehidupan sehari-harinya. Entahlah, hanya di yang bisa menjawab. Saya sudah pernah mendengarkan lagu-lagu dari Panasdalam, seharusnya saya tak perlu kaget dengan kekonyolannya, lirik-lirik lagu yang ditulisnya dan tulisannya di buku ini sudah cukup menjelaskan betapa tidak warasnya dia. Jadi, kalau dia menganggap Drunken Monster sebagai catatan harian, Anda tak perlu percaya dengan kebenaran kisahnya, wong ra waras ojo digagas...

Ada satu hal yang saya kagumi dari sosok Pidi Baiq, dia adalah orang yang sangat dermawan. Tukang becak yang sering nongkrong di dekat rumahnya pernah ditraktir makan di cafe mahal di Bandung. Seorang bapak penduduk sekitar Tangkuban Perahu dikasih 50ribu, begitu pula dengan tukang ojek dan sopir angkot. Tapi sebelum dikasih uang, orang-orang itu musti berlapang dada menanggapi setiap omongan dan kelakuannya, yah bayangkanlah acara tivi Candid Camera yang legendaris itu.

Di Gramedia Solo, seingat saya buku ini ditaruh di rak kategori ‘Humor’, bersebelahan dengan bukunya Beny-Mice, dan di bawahnya ada buku saku contoh SMS humor-gaul. Tapi Drunken Monster sebenarnya tak menyajikan humor kelas remeh dan miskin makna. Humor yang ada dalam tulisan Pidi adalah humor yang kadang berisi renungan-renungan, kritis, satire, dan sedikit berbumbu intelektual. Sebuah humor yang berusaha nyastra – atau justru sebaliknya? Menurut saya, Drunken Monster bisa saja ditaruh di rak kategori ‘Sastra’, bersebelahan dengan buku-bukunya Pramudya Ananta Toer, Sindhunata, dan Budi Darma.

Oya, sebenarnya semua tulisan yang ada di buku ini adalah catatan harian yang sudah diposting di blog Multiply miliknya. Silakan berkunjung ke sana, tinggal di-print, maka Anda bakal memiliki naskah yang hampir sama dengan buku Drunken Monster, cuman beda editing doang, tak perlu lah beli, hehe. Tapi kenapa ya buku ini masih saya beli juga? Yah, anggap saja saya lagi khilaf.

Kabarnya, Pidi Baiq sudah mengeluarkan buku baru lagi, judulnya Drunken Molen. Dan sedang menyusun buku lain, Ayat-Ayat Sompral. Ditunggu saja, semoga saya tak lagi khilaf...

JUDUL: Drunken Monster | PENGARANG: Pidi Baiq | PENERBIT: DAR! Mizan, 2008 | TEBAL: 208 halaman | HARGA: Rp. 29.000

Monday, June 2, 2008 |

Posting

Arsip Blog

Jika Anda jarang berkunjung ke blog ini, Anda akan telat membaca posting terbaru. Jika Anda terlalu sering berkunjung, saya yang akan ketinggalan menuliskan hal baru. Dunia blog kadang juga bisa bikin kecewa, tapi semoga itu tidak membuat Anda jera.

My Viewfinder

www.flickr.com
This is a Flickr badge showing public photos from Dony Alfan. Make your own badge here.

didukung oleh

Download